Pengumuman Penerimaan USM STAN 2010-2011

Buat teman-teman kelas XII yang baru saja menerima pengumuman kelulusan, dan semua teman-teman yang berminat mengikuti Test USM STAN, silakakan menyimak pengumuman resmi dari sekretariat panitia USM STAN :)

dan jangan lupa belajar...
Practise makes perfect...
Bila memang dirasa perlu, silakan ikut Bimbingan Belajar Paspilo-Best atau Bimbingan Belajar Paspilo-SSC..
hubungi 021-80706670 untuk info lebih lanjut.

Sumber: http://www.stan.ac.id/posts/20100428/pengumuman-penerimaan-usm-stan-2010-2010.html

Kementerian Keuangan akan menerima putra dan putri Warga Negara Indonesia untuk mengikuti pendidikan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dengan spesialiasasi sebagai berikut:

1. Program Diploma I Keuangan Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai
2. Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai
3. Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Anggaran/Kebendaharaan Negara
4. Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Pajak
5. Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Pengurusan Piutang dan Lelang Negara
6. Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Pajak Bumi dan Bangunan
7. Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi

Pendaftaran dibuka : 10 Mei – 4 Juni 2010
Pengumuman lengkap dan syarat-syarat pendaftaran dapat diunduh disini:
http://www.stan.ac.id/media/konten/2010/04/pengumuman-usm-d31-2010x.pdf

Formulir Pendaftaran:
http://www.stan.ac.id/media/konten/2010/04/Formulir-pendaftaran-usm-d31-2010.pdf

Untuk Informasi yang kurang jelas dapat menghubungi Panitia pada hari dan jam kerja
Telp (021) 7361654
Email (Gtalk) : usm@stan.ac.id
Yahoo Messenger : usmstan

[Repost] Sebuah Kisah untuk Para (Calon) Ayah dan Bunda

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:

"Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"

Suamiku menjawab:

"Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku."

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

"Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah."

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:

"Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
"Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.

"Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku.

Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,

"Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!"

Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:

"Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi.

Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,

"Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"

Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,

"Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.

Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.

Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang:

"Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu

Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.

Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.

Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:

Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, Alhamdulillah


SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat


Author : PercikanIman.org
Shared By Catatan Catatan Islami Pages

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Jika anak di besarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak di besarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak di besarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak di besarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak di besarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak di besarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak di besarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak di besarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak di besarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak di besarkan dengan penerimaan, ia belajar mencinta
Jika anak di besarkan dengan dukungan, ia belajar menenangi diri
Jika anak di besarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak di besarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan
Jika anak di besarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak di besarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak di besarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak di besarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

Special Thanks to Nunu dan Mas Yuga yang memperbolehkan saya merepost ini... :)
Saya suka semua cerita yang inspiring..

Pendakian Hidup

Rasanya seperti dipaksa ikut pendakian masal, padahal mereka tau aku ngga kuat dan ngga punya ability untuk naik gunung, tapi mereka janji bakal bantu, narik dari atas dan dorong dari bawah. Aku ngga yakin bisa.

Setelah melalui proses pemaksaan yang cukup pelik, dan dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku mau ikut.

Aku, dan mereka, memulai pendakian ini dengan optimis. Sampai ditengah-tengah aku baru sadar, mereka yang membantu aku ternyata ngga bener2 bantu. Cuma terlihat mendorong dari bawah, dan terlihat narik dari atas. Sambil mengeluhkan ketidakmampuanku dalam hati masing-masing. Mungkin mereka capek membantu aku yang masih saja ngga mampu dan terlalu merepotkan. Seolah sia-sia.

Aku bingung, aku harus gimana. Aku ngga bisa menyalahkan mereka dan ngga bisa juga nyalahin diriku sendiri. Aku ngga bisa seenaknya balik ke kaki gunung dan berlari pulang. Aku sudah terlalu jauh dari rumah, tapi masih lebih jauh lagi dari puncak.

Aku ngga ingin nyalahin siapa-siapa. Aku hanya ingin mereka tau, aku masih tetap ingin melanjutkan pendakian ini sampai puncaknya, dan aku ngga bisa melakukan itu tanpa mereka.

Seharusnya justru bagus jika mereka tau tentang segala ketidakmampuanku, karena dengan itu harusnya mereka tau bagaimana harus bersikap. Bagian mana yang mereka harus bantu dorong, seberapa kuat tarikan yang harus mereka buat. Seharusnya pengetahuan mereka tentang ketidakmampuanku mendaki bukan menjadi suatu alasan untuk mereka ninggalin aku dan ngebiarin aku berusaha sendiri.

Aku sudah sejauh ini. Jika aku lihat lagi diawalnya, kenapa aku berani mengambil keputusan seperti ini. Kenapa aku mau mendaki bersama mereka, padahal kami sama-sama mengerti tentang ketidakmampuanku. Karena aku berfikir, aku akan baik-baik saja dengan bantuan mereka. Pendakian ini akan baik-baik saja karena ada mereka disamping-sampingku. Ada mereka yang akan selalu meng-cover kekuranganku. Sambil tentu saja aku pun belajar mengatasinya sendiri. Semua butuh waktu, butuh proses yang melibatkan mereka didalamnya.

Aku hanya ingin mereka tau, aku butuh mereka didekatku. Aku butuh mereka berbicara padaku tentang aku seharusnya A, tidak boleh B, sebaiknya C, jangan D, dan segala sesuatu yang aku tidak tau, aku tidak bisa, tapi mereka tau dan bisa.

Aku sama sekali ngga ingin mereka menjauh. Dan aku ingin mereka tau, aku punya kemauan untuk bisa, mengatasi ketidakmampuanku, memperbaiki kekuranganku. Itu saja.

Aku hanya manusia biasa yang punya kekurangan dan butuh teman-temanku untuk memperbaiki kekurangan itu..
Surely, aku akan menerima bantuan sekecil apapun.
Dan aku akan sangat berterimakasih untuk yang mau melakukannya, sincerely...

:)