Kawan Berhentilah Sejenak

My Tumblr

Roda kehidupan selalu dan pasti berputar kawan..
Di atas di bawah bukanlah masalah..
Yang terpenting bagi kita adalah tetap melaju..
Mengayuh harapan di bahu kita..
Berhenti sejenak jika kejenuhan menggelayuti..
Tetapi jangan pernah lelah untuk bangkit dan bangkit lagi..
Mengayuh roda kehidupan menggapai asa disana..
Jangan pernah lelah dan menyerah pada keadaan..
Dan jangan pernah lengah pada hambatan...

-radhdindun-

Owl City - Aligator Sky


Aligator Sky
(Owl City feat. Shawn Chrystopher)

[Chorus]
Where was I when the rockets came to life
And carried you away into the alligator sky
Even though, I'll never know what's up ahead
I'm never lettin' go, I'm never lettin' go


[Shawn Chrystopher - Rap Verse 1]
Uh uh, that's not a plane, that's me
I'm sittin' where I'm supposed to
Floatin' on the cloud, can't nobody come close to
The concrete and the sky switch places
So now my ceiling is painted with cosmic spaces
Firecracker to the moon, keep your eyes shut
Blastin' off like a rocket from the ground up
Heh, I used to catch a cab on the Monday
Now the taxi's sellin' lights on the runway, fly
Condo on the milky way
A house on the cloud and God's my landlord
And for my rent all I pay is my drive
Got that so If you need me you can find me in the alligator sky

[Chorus]
Where was I when the rockets came to life
And carried you away into the alligator sky
Even though I'll never know what's up ahead
I'm never lettin' go, I'm never lettin' go

[Bridge]
Roller coaster through the atmosphere
I'm drowning in this starry serenade
Where ecstasy becomes cavalier
My imagination's taking me away

Reverie whispered in my ear
I'm scared to death that I'll never be afraid
Roller coaster through the atmosphere
My imagination's taking me away

[Shawn Chrystopher - Rap Verse 2]
Uh, now I'mma dance like I never dance
Sing like I never sing, dream like I've never dreamed
Or try to, 'cause we've been lied to
That the sun is somethin' that we can't fly to
Well, I sit on my star and see street lights
Look up, ha, you'll miss me if you blink twice
Imagination is hot and if you got it you can meet me
When you see me in the alligator sky


[Chorus]
Where was I when the rockets came to life
And carried you away into the alligator sky?
Even though I'll never know what's up ahead
I'm never lettin' go, I'm never lettin' go

Where was I when the rockets came to life
And carried you away into the alligator sky?
Even though I'll never know what's up ahead
I'm never lettin' go, I'm never lettin' go

In the alligator sky... 


I Always Act Like Myself

Itu adalah sekelumit tentang saya yang mungkin readers sudah baca di kolom 'About Me' maupun di complete profile saya. Ya saya memang seperti itu, dimanapun saya berada saya berusaha untuk menjadi diri saya sendiri, dan cenderung lebih memegang prinsip. Dari kecil saya dididik untuk membentengi diri dari pengaruh luar, dan itu terbawa sampai sekarang. Saya bisa dibilang termasuk orang yang tidak mudah dihasut dan dipengaruhi, tidak mudah terbawa arus. 

(ini bukan thread perkenalan)

Penelitian | Hari ke-5

Sabtu, 09 April 2011
Hari ini saya mulai dengan kebingungan tiada tara (ini lebay sih). Bingung mau berangkat ke tempat penelitian jam berapa. Dua hari yang lalu saya berusaha menghubungi Pak Kamboja untuk menanyakan kepastian data yang saya minta untuk penelitian, tetapi tidak berhasil mendapat konfirmasi apa-apa, Pak Kamboja pada waktu itu bersikukuh menjawab dengan "Sabtu, mbak. Nanti saya kabari saja." Kalo sudah digituin ya sudah, apa mau dikata, kalo maksa ngeyel malah bahaya. Alih-alih menunjukkan kesungguhan, yang ada malah data ngga dikasi karena ngga mau nurut. 

Sociocultural Behavior | Perilaku Sosial Budaya

Setiap kali kita berada pada lingkungan yang baru kita kenal, kita pasti perlu menyesuaikan diri. Tidak perlu merubah total kepribadian kita menjadi sama seperti orang-orang di lingkungan itu, kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri yang sadar akan perilaku sosial budaya yang berlaku di lingkungan tersebut.


Menjadi diri sendiri memang sangat baik bagi kehidupan, bahkan hal itu disarankan, tetapi terlalu mengekang diri dengan benteng-benteng pertahanan prinsip terkadang justru membuat kita tersisih. Kalau kata orang jawa: "Sing bener ki durung mesti pener". Artinya, sesuatu yang benar belum tentu tepat. Jadilah seperti bunglon, kulitnya bisa berubah warna sesuai warna di tempat bunglon itu menempel. Walaupun warnanya berubah-ubah toh dimana-mana dia tetap bunglon, reptil unik ciptaan Tuhan.

Jika kita sudah mempelajari perilaku sosial budaya yang berlaku di lingkungan kita, kita tentu bisa membuat batasan-batasan seberapa banyak kita harus menyesuaikan diri. Terlalu menuruti lingkungan juga bisa membuat kita terlihat tak berprinsip.Masyarakat cenderung lebih susah memberi kepercayaan pada orang-orang yang ngikut sana ngikut sini. Jaim (jaga imej) itu perlu, tapi ada batasannya juga, sejauh mana kita menuruti kemauan orang lain. 

Disini, saya akan sedikit bercerita tentang sociocultural yang berlaku di lingkungan tempat tinggal saya di Jawa. Tentang bagaimana orang berinteraksi satu sama lain. Hal ini seharusnya sudah saya ketahui sejak lama, karena saya tinggal ditengah-tengah budaya Jawa sejak saya berumur enam tahun. Namun, justru karena terlalu terbiasa dengan kulturnya, saya justru baru menyadari hal ini saat saya sudah kuliah di Jakarta dan sedang mengadakan penelitian TA di Sukoharjo. Tepatnya ketika saya harus berinteraksi dengan orang-orang yang menjunjung tinggi adat budaya Jawa untuk sehari-harinya, bahkan dibawa ke prosedural kantor. 

Awalnya saya dihadapkan pada Bu Melati* (lihat pada postingan sebelumnya). Di lingkungan kampus saya, saya biasa berkomunikasi dengan teman dan bahkan dosen melalui alat komunikasi praktis yang bernama handphone jika memang tidak ada keperluan untuk bertatap muka. Contohnya sekedar bilang terimakasih, kan lewat telepon saja sudah cukup., atau bahkan sms saja. Tetapi ini tidak berlaku di daerah saya, keperluan bicara harus dituntaskan dengan bertatap muka. 

Kepada Bu Melati saya berniat menanyakan perihal bisa atau tidaknya saya mengadakan penelitian di kantor beliau, untuk menanyakan ini secara langsung tentu saja saya tidak bisa, waktu itu posisi saya masih di Jakarta. Datanglah orang tua saya ke rumah Bu Melati untuk menanyakan hal tersebut. Setelah mendapat jawaban "Ya" tentu saya perlu bertanya lagi, apakah diperbolehkan mengadakan penelitian pendahuluan dengan surat pribadi sembari menunggu surat survei resmi dari kampus. Untuk pertanyaan yang membutuhkan jawaban "Ya" atau "Tidak" ini masa saya harus meminta tolong orang tua saya lagi untuk datang ke rumah Bu Melati? Ternyata memang harus begitu. Padahal saya sebenernya ngga ingin merepotkan orang tua saya. Saya sudah mencoba bicara pada irang tua saya, "gimana kalo nanyanya lewat telepon aja, pa?" Dan papa saya menjawab dengan tegas, "Ojo, ra sopan." Hmm.. saya langsung melipir, ngga lagi-lagi deh berniat nanya gitu. Hehe.

Begitulah budaya jawa, bila ada perlu ya harus bicara langsung. Kemajuan teknologi tidak banyak berarti di lingkungan yang masih kental budaya seperti ini. Bu Melati cuma satu contoh dari berbagai kisah yang saya alami selama mengadakan penelitian. Ada satu kisah lagi yang menurut saya perlu saya ceritakan, yaitu tentang Pak Kamboja* (lihat postingan sebelumnya).

Pak Kamboja, petugas yang menangani dan mengarahkan penelitian saya. Pada hari pertama penelitian saya cuma ditanya mau ngapain, lalu disuruh kembali lagi besoknya membawa kuesioner dan perlengkapan wawancara dan observasi. Katanya sih karena hari itu saya kesiangan, jadi pegawai-pegawainya udah nyebar di lapangan. Besoknya saya datang membawa semua yang sudah saya persiapkan. Saya datang sangat pagi sampai-sampai bisa menyaksikan upacara apel pagi yang diikuti semua pegawai, artinya saya bisa ketemu semua pegawai setelah apel karena belum ada yang berangkat ke lapangan.

Ternyata Pak Kamboja berkehendak lain, saya cuma disuruh menyerahkan kuesioner dan kembali lagi hari Sabtu. Padahal sebelum saya bertemu dengan Pak Kamboja saya sempat ngobrol dengan banyak pegawai disana, yang artinya sebenarnya pegawainya ada dan bisa diwawancara saat itu juga. Waktu saya memohon-mohon untuk diperbolehkan wawancara hari itu juga, Pak Kamboja tetap keukeuh bilang "Hari Sabtu aja mbak." Baiklah, saya kembali pulang dengan tangan kosong.

Di rumah saya menceritakan hal ini ke orang tua saya, da orang tua saya mengangguk-angguk tanda wajar dan sangat memaklumi bahkan sudah hafal dengan respon seperti itu. Kata papa sih Pak Kamboja ini "mengambil wibawa". Ya, ini memang budaya Jawa lagi yang mewarnai disini. Budaya dimana yang membutuhkan sesuatu dari orang lain harus menuruti apa kata orang itu. Apalagi kedudukannya memang lebih tinggi. Dadi cah cilik kudu rumongso butuh. Intinya Pak Kamboja ingin dihargai dan ingin saya menuruti apa kata dia saja. Harus ada perjuangannya gitu.

Kembali lagi ke pembahasan awal, kita memang harus bisa jadi bunglon. Menghadapi berbagai sifat orang memang butuh skill dewa agar tidak terantuk. :)

Sekian dari saya, semoga bermanfaat bagi readers. Kenali sociocultural behavior orang yang reader hadapi, biar ngga mentok sana mentok sini, oke? ;)

The Story Behind [KTTA]

"Segalau-galaunya selama kuliah di STAN ya sekarang ini" –Dias Panggalih, Februari 2011–



Mengutip satu status update milik teman seorganda saya, Dias, bener juga kayaknya apa yang dibilang disitu.



Februari 2011, awal perkancahan KTTA dimulai dengan hiruk pikuk dan hectic mahasiswa tentang pemilihan bidang dan kemudian diikuti dengan pembagian Dosen Pembimbing dan penentuan JUDUL KTTA. Galau, belum tentu. Bingung, pasti. Dengan modal percaya diri dan sms dari Mbak Mawar (nama samaran) yang meyakinkan saya akan membantu mendapatkan data dari sebuah instansi pemerintah, akhirnya saya pun memilih AUDIT SEKTOR PUBLIK sebagai bidang karya tulis tugas akhir saya. Dan disetujui oleh kampus.

Milih judul pun saya konsultasinya ke Mbak Mawar. Bingung bingung bingung sampe akhirnya menemukan tema yang saya yakin mampu bahas dan Mbak Mawar yakin mampu bantu nyari data sampe ke akar-akarnya, sampe ke detil-detilnya, sampe ke dokumen yang biasanya ngga bisa diminta pihak lain, Mbak Mawar njanjiin bisa lho, smsnya masih saya simpan kok. Oiya, Mbak Mawar adalah saudaranya ibu yang notabene ngga ada hubungan darah sama saya. Setelah judul itu diajuin ke Dosbing, ternyata Dosbing saya setuju. Outline alhamdulillah lancar dan terhitung cepat secepat kilat dibanding yang lebih lambat.

Outline, kenapa saya bisa cepat selesai, karena saya terpancing oleh teman se-Dosbing saya yang lebih cepat. Sebut saja Anggrek. Jadi semangat gitu, kalo orang lain bisa, saya harusnya bisa cepat juga kan ya. Untungnya, anggrek juga kooperatif orangnya, kalo ketemu Dosbing suka bilang-bilang. Jadi saya bisa ngikut, hehe. Huge thanks to Anggrek deh. Pas outline disetujui Dosbing juga jadinya bareng. Senengnya bukan main saat itu. Gimana engga, pas ujian, minggu pertama belajarnya disambi mikir outline, sementara yang lain fokus ujian doang. Alhamdulillah beres dan minggu kedua bisa fokus ujian. 






Maret 2011, libur tlah tiba. Diawali dengan Java Jazz yang melenakan pikiran dan dompet. Liburan emang sengaja ngga pulang ke Solo, berharap bisa ngerjain KTTA dengan modal data dari kantor Mbak Mawar di Jakarta. Hampir tiap hari Mbak Mawar saya tagih janjinya, dikit-dikit dikasi datanya lewat email saya. Mulai dari contoh-contoh pembahasan, sampe ke bagian luar data yang signifikan. Sampe kira-kira seminggu sebelum libur berakhir, terjadilah. She did it. Bukan, Mbak Mawar belum ngasi data yang saya minta. Justru Mbak Mawar tiba-tiba bilang kantornya lagi genting, lagi ada internal conflict. Sehingga.....saya disarankan untuk menunda penelitian dan.....Mbak Mawar juga bilang bahwa data yang saya minta yang dulu dia bilang mau bantu dapetin walau sampe detil-detilnya itu sudah disegel dan dirapiin karena kantornya memang sedang dibawah pengawasan sebuah lembaga swasta pemberantas korupsi, Mbak Mawar ngga bisa lagi ngasi data yang dia janjiin kesaya. Jlegeerrrr... bagaikan tersambar petir di Warung Spesial Sambal.


Putar otak putar otak. Orang yang saya kabari pertama adalah pacar saya yang sedang galau soal KTTA juga. Walau galau kayak apa juga toh dia tetep bisa menenangkan saya lho. Hebat kan? Hari itu hari Rabu minggu terakhir liburan semester kayaknya, udah sore pula, jadilah saya habiskan malam kamis dengan bergalau ria, uhuk. Kamis sore saya nelpon orangtua dirumah, cerita tentang Mbak Mawar dan keajaiban yang dibawanya. Ortu ikut bingung tapi sekaligus menawarkan satu solusi baru. Tapi baru bisa ngabarin besok setelah berkonsolidasi dengan seorang tetangga di komplek yang kerja di Instansi Pemeritah Kabupaten deket rumah, sebut saja Bu Melati.

Jumat sore, ibu saya telpon, membawa kabar baik. Ternyata Bu Melati bersedia membantu proses penelitian saya di kantornya. Saya sedikit lega. Sedikit. Karena belum berbicara dengan Dosbing. Senin saya baru ketemu Dosbing dan langsung curhat habis-habisan masalah kendala ini. Beliau baik banget, baru saya selesai cerita beliau langsung nelpon temennya yang kerja di instansi yang membawahi kantor Mbak Mawar, beliau minta konfirmasi soal kejadian ajaib yang mendebarkan itu. Memang benar sih kantor itu sedang didatangi pengawas, tapi menurut teman Dosbing saya masih tetap bisa mengadakan penelitian dan ngambil data disitu. Waktu itu saya ketemu Dosbing bareng sama teman sedosbing yang saya critain diatas tadi. Dia juda nemu kendala katanya.

Saat itu saya udah merelakan untuk mengajukan judul baru, karena saya ngga melihat ada kans lagi untuk ngejar Mbak Mawar. Kalaupun harus lewat jalur normal tanpa Mbak Mawar udah telat banget. Tambah lagi masalah SURAT SURVEI yang molor lor lor lor lor. Saya bilang deh ke Dosbing, minta ijin untuk ganti judul dan mau ngambil data dari kantor Bu Melati aja. Beliau ternyata ngga masalah. Begitu lampu hijau dari Dosbing sudah nyala, saya langsung inisiatif bikin data surat survei baru yang langsung saya kirim ke mas Yogi setelah saya konfirmasi lebih dulu ke mas Yogi nya. Begitu data saya email langsung dibalas mas Yogi dan ditanya-tanya tentang alamat tujuan suratnya udah bener apa belum, langsung dibenerin gitu biar ngga kelamaan.

Hampir seminggu setelah itu, surat survei tak kunjung terlihat batang tubuhnya. Saya mulai putus asa lagi. Galau lagi galau lagi lagi lagi. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk ketemuan dengan Dosbing dan bikin Surat Pribadi yang ditanda tangani Dosbing sebagai pengganti Surat Survei. Ibu juga udah nanya ke Bu Melati, katanya ngga apa2 pake surat itu, nanti surat resminya disusulkan saja. Kebetulan Sabtu ada temen seDosbing yg lain, sebut saja Putri Malu, sms saya. Ngajak ketemu Dosbing bareng tapi doi ngga berani nelpon, katanya udah sms ngga dibales. Yaiyalah ngga dibales, Dosbing saya udah bilang kalo mau menghubungi beliau harusnya nelpon aja, kalo ngga diangkat baru sms. Saya bilang ke Putri Malu, telpon aja, saya seringnya kalo nelpon pas weekend juga ngga apa2 kok. Dia sih bilang oke, mau ngabarin juga kalo dah nelpon.

Minggu pagi, minggu ceria, minggu Bancaan Paspilo, belum ada kabar dari Putri Malu, saya sms dia deh. Ealah waladalah cah....belum berani nelpon juga dia, masih merangkai kata kali ya. Yaudah saya aja yang nelpon. Dosbing saya ternyata mau keluar kota, berangakt senin sampe ngga tau kapan, uhuk. Artinya saya harus ketemu sebelum beliau berangkat. Pagi-pagi banget saya ngeprin surat di rental deket kampus, trus langsung cussss ke kampus bareng ama Putri Malu. Surat saya diteliti, eh masih ada yang salah, jadi harus balik lagi ngeprin trus baru minta tanda tangan Dosbing saya, ntung berangkat keluar kotanya masih jam 11 siang, jadi masih ada waktu. Habis saya konsul masalah surat, saya masih diruang bimbingan dan mendengarkan dengan saksama curhatan Putri Malu ke Dosbing saya. Ternyata saya salah, harusnya saya ngga usah denger aja daripada jadi gondok gara-gara envy. Byuh, si Putri Malu ternyata punya koneksi jos gandos di kantor yang membawahi kantornya Mbak Mawar. Dan ngga bilang-bilang. Byuuuh..cek pelite rek..

Pulang dengan gontai, saya langsung curhat ditelpon sama pacar saya yang juga masih galau KTTA. Dinasehati biar ikhlas dan sabar. Alhamdulillah agak lega. Lanjut ngedit surat yang salah, abis itu ke kampus lagi minta tanda tangan Dosbing. Tiba-tiba saya dapet kabar surat survei udah keluar sebagian. Abis dapet tanda tangan dosbing buat surat survei pribadi sekaligus buat surat permohonan kontinjensi yang harus disampaikan ke sekre, saya langsung nyerahin surat kontinjensi itu ke sekre, lewat mas Yogi tentunya. Sekalian dong nanyain surat survei. Bareng ama beberapa orang dari kelas lain yang juga nanya tentang surat survei malah diminta mas Yogi buat misah2in per kelas.

Oke,surat survei atas nama saya tidak saya temukan disana. Tidak apa-apalah, yang penting membawa kabar baik untuk beberapa teman sekelas. Bebrapa teman organda juga saya dapati namanya ada disurat survei. Karena saya udah berniat menggunakan surat pribadi, saya jadi nanya ke temen2 seorganda saya yg surat surveinya udah jadi, barangkali ada yang mau mudik bareng. Ternyata emang ada, sebut saja Erna dan Wewe (keduanya bukan nama samaran). Bertiga udah merencanakan sampe detil pemberangkatan. Sampai suatu waktu di malam itu ibu saya nelpon dan mengabarkan bahwaaaaaaa...saya dilarang pulang. Kata ibu saya, mending nunggu surat survei saja yang pasti udah boleh dipake ijin penelitian. Jleggeeer.. kesamber sambal petir lagi deh saya.

Yasudah, saya batalkan rencana mudik ke Erna dan Wewe dengan sangat tidak enak hati. Galau lagi lagi dan lagi sampe-sampe badan saya langsung drop malam itu, migrain datang tanpa diundang, suhu tubuh meningkat. Pacar saya nemenin di kosan padahal sayanya ndak bisa omong apa2 kayak orang linglung. Kasian pacar saya, dianggurin. Mak plenggong gitu rasanya. Sia-sia gitu kayaknya tadi pagi ngejar-ngejar Dosbing demi Surat Survei Pribadi yang akhirnya ngga kepake. Harapan yang tersusun bagai benteng pertahanan tiba-tiba runtuh dan harus dibangun dari awal.


April 2011, April Mop! -_____-"
Hari-hari saya jalani dengan biasa saja, kuliah dan mencuci adalah kegiatan sehari-hari saya. Sampai tibalah hari Jumat dimana kabar Surat Survei kembali menghiasi wall Facebook PSAK2011. Dan nama saya belum juga muncul disana. Okelah kalo begitu, saya masih menunggu. Sore hari saya dengar kabar bahwa surat saya sudah jadi. Saya langsung menemui mas Yogi sekalian balikin helm teh Nike yang dititip ke saya. Alhamdulillah, lega bukan main, saya langsung ngabarin ortu dan pacar. Saya jadi bingung mau kapan ini pulangnya, kuliah jadwalnya Selasa sama Kamis, nanggung banget. Eh pas online YM ada temen sekelas yang saya denger juga mau pulang walau beda tujuan tapi kami satu arah. Sebut saja Om (nama panggilan bukan nama samaran). Saya tanya Om, ternyata dia pulang hari Minggu malam. Setelah melalui perdebatan dan pertimbangan yang amat sangat berat, akhirnya saya putuskan untuk pulang bareng Om. Naik Kereta Api Ekonomi Bengawan.

Perhelatan pencarian data saya mulai hari Selasa siang karena Senin pagi badan saya kaku linu-linu keju gara-gara naik kereta ekonomi. Lagipula sampe rumah udah lewat jam 9 pagi. Yaudah, Selasa pagi saya ke Kantor objek penelitian saya, ketemu dulu sama Bu Melati. Berkat Bu Melati urusan ijin penelitian jadi lebih simple tanpa ribet panjang panjang. Tidak lama setelah saya dapat ijin penelitian, saya diantar Bu Melati ke Ruang yang lebih spesifik, disana ketemu dengan pejabat yang memimpin kantor itu, saya ditanya macem-macem tapi bukan masalah pribadi sih. Setelah mungkin kehabisan ide mau nanya apa, akhirnya saya diberitau bahwa penelitian tidak bisa dimulai hari ini karena petugas sedang di lapangan semua. Saya diminta kembali besoknya dengan membawa kuesioner. Saya diminta datang pukul 7.15 saat petugas baru saja selesai apel pagi dan belum ke lapangan.

Rabu, 06 April 2011. Hari ini. Tadi pagi saya ke kantor objek lagi. Dengan mental yang sudah saya siapkan untuk mewawancara dan mengobservasi sasaran-sasaran saya di kantor itu. Jam 6 pagi saya berangkat dari rumah, karena memang rata-rata perjalanan dari rumah ke kantor itu memakan waktu hampir satu jam. Sudah siap dengan 20 kopi lembar kuesioner, 1 lembar daftar dokumen yang akan saya observasi, ditambah 4 lembar daftar pertanyaan wawancara ke petugas. Datang kepagian, jam 6.50 sudah sampai depan kantor, eh ada polisi. Kena deh saya, gara-gara lupa nyalain lampu, ditegur doang sih, tapi ampun males nya deh urusan sama hongeb, asal jawab "Ya, Pak." aja deh.

Karena kepagian, saya dateng pas apelnya belum mulai. Beruntung loh saya bisa liat pegawe apel kayak anak sekolahan lagi upacara. 7.20 Apel selesai, saya langsung ke ruangan pejabat yang kemarin, sebut saja Pak Kamboja. Pak Kamboja menanyakan kuesioner yang saya bawa, beliau meinta 15 kopi saja. Tapi, beliau tiba-tiba berkata bahwa saya hari ini Cuma bisa menyerahkan kuesioner itu dulu. Wawancara sama observasi nanti saja setelah kuesioner saya kembalikan. Jleb, rasanya seperti tertancap duri tongkol deh. Waktu saya tanya ke Pak Kamboja kira-kira kapan, beliau jawab Hari Sabtu. Duh, padahal saya pingin balik ke kampus berangkat Rabu malem biar bisa ikut kuliah Kamis siang. Ternyata eh ternyata, tidak bissaaaaaa.. Yasudahlah, mau ngga mau saya harus bolos kuliah full seminggu ini.

Semoga Sabtu nanti Pak Kamboja benar-benar memenuhi janjinya, jadi saya bisa menyelesaikan kisah pencarian data ini sampai hari Sabtu saja, dan saya akan segera melanjutkan KTTA saya yang bahkan dimulai saja belum. Doakan ya readers  terimakasih...